Kamis, 03 Maret 2011
The Alien Song by Milla Jovovich
The Alien Song by Milla Jovovich
I see a shining....
A sweeping from the clouds
A glimmer of hope
Is coming to feel our light
Oh look it's flashing
This life among the stars
Reaching out to know us
To feel our might
Oh... this restless hope in you
Please... try and help us
Stand on our own
As we stopped on this pavement
And saw your dying mind
Paper, for which you're killing brothers life
A sweeping from the clouds
A glimmer of hope
Is coming to feel our light
Oh look it's flashing
This life among the stars
Reaching out to know us
To feel our might
Oh... this restless hope in you
Please... try and help us
Stand on our own
As we stopped on this pavement
And saw your dying mind
Paper, for which you're killing brothers life
Help you, we cannot trust you
We cannot understand
Your people's proud destruction
Of their own land
Oh... we're flying on from you
We... will not stay to see your fate
Watch them fly away
Watch them fly away
See the lines across the sky
Watch them fly... away
We cannot understand
Your people's proud destruction
Of their own land
Oh... we're flying on from you
We... will not stay to see your fate
Watch them fly away
Watch them fly away
See the lines across the sky
Watch them fly... away
Download this song at :
Rabu, 02 Maret 2011
Alien City - Alien City ( Dog Star, 1979 )
Alien City - Alien City ( Dog Star, 1979 )
By Evan ~ August 26th, 2009
Originally released in a limited pressing of 500 copies, this album took five years to complete. That’s an absurd amount of time for a microscopically small, self-financed recording at any time — perhaps more so in the ’70s, when not everybody had the means of producing, pressing and distributing an album electronically like so many bedroom artists today. The man responsible for Alien City was a Seattle, WA native named Jon Turnbow, and his labor of love is actually a concept album. The concept is a little vague, it is described as “the Incarnation of Celestial Visitors,” but the message gets a bit lost over the course of the album.
The best description one could give of Alien City would be “Ziggy Stardust” or “Aladdin Sane” era Bowie, a little more glam/prog, a little less punk, and a bit more out of left field. Reports indicate that Jon might have spent time in an asylum after recording this album. Unlike Stephen David Heitkotter — whose stunning album Heitkotter was posted here on Monday — hopefully he has since been rehabilitated.
Original copies included a lyric sheet. There are currently no plans for a reissue, but just like the Harbinger album yesterday and the Heitkotter LP on Monday, both of these lost gems deserve to be heard. Thanks again to Swan Fungus reader Viagra Falls for this recording — I can’t wait to see what else he uncovers for us to enjoy in the future.
Enjoy!
Alien City
Tracklist:
01. Alien City (Overtura) – Get Away
02. Cathode Rays
03. Information Overload
04. Older Men
05. Suffer
06. Almost Every Day
07. Target Area
08. Keep Your Cool
09. Between The Lines (Ruby’s Blues)
10. You’re Being Used
11. Dirty Heaven
01. Alien City (Overtura) – Get Away
02. Cathode Rays
03. Information Overload
04. Older Men
05. Suffer
06. Almost Every Day
07. Target Area
08. Keep Your Cool
09. Between The Lines (Ruby’s Blues)
10. You’re Being Used
11. Dirty Heaven
From :
Battle: Los Angeles
"Battle: Los Angeles" atau berjudul internasional "World Invasion: Battle Los Angeles" ini menceritakan tentang serangan alien. Bertahun-tahun dokumentasi tentang penampakan UFO tidak hanya terjadi di Amerika, tetapi menyebar ke seluruh dunia, Brazil, Korea, Perancis, Jerman, dan Cina.
Kali ini di tahun 2011, apa yang awalnya hanya sebuah penampakan tidak jelas tentang piring terbang, berubah menjadi kenyataan yang mengerikan ketika Bumi diserang oleh kekuatan "asing". Saat penduduk bumi menyaksikkan kota-kota besar di dunia hancur, Los Angeles menjadi satu-satunya kota yang masih bertahan dan justru balik menyerang. Seorang sersan marinir (Eckhart) dan anak buahnya akan menghadapi musuh yang tidak pernah mereka hadapi sebelumnya.
Film ini dibintangi oleh Aaron Eckhart, Michelle Rodriguez, Michael Pena dan Bridget Moynahan. Jonathan Liebesman (The Texas Chainsaw Massacre: The Beginning, Darkness Falls) duduk di bangku sutradara. "Battle: Los Angeles" dijadwalkan untuk tayang pada 11 Maret 2011.
From :
Selasa, 01 Maret 2011
Sepeda Onthel Pembawa Berkah
RABU, 12 NOVEMBER 2008

Sepeda Onthel pembawa berkah
Oleh: A.Buanasari
Oleh: A.Buanasari
Brukk!!!Tubuh mungil Nia terpental setelah seorang pengendara sepeda menabraknya, sialnya lagi, sekarang bajunya penuh dengan Lumpur. Sontak Nia mengarahkan pandangan kearah pemuda yang baru saja menabraknya. Maksudnya sih Nia langsung pengen ngebentak, tapi…
Oh my Good! Ini manusia apa Alien sih? Dandanan super kuno, kacamata pantat botol plus sepeda onthel lagi! Batinnya.
“eh punya mata ngga sih? Sekarang liat baju aku semuanya penuh Lumpur “
Bentak Nia dengan wajah yang memerah karena kesal. “maaf mba’ saya benar-benar ngga sengaja, saya buru-buru”jelas pemuda itu dengan terbata-bata.
“itu bukan urusan aku ya! Pokoknya gara-gara kamu sekarang aku ngga bisa ikut audisi”
“sekali lagi saya minta maaf mba”pemuda itu terus membungkuk, bak pelayan yang menjawab pertanyaan majikannya.
Dengan wajah yang masih kesal, Nia berlalu meninggalkan pemuda yang disebutnya sebagai alien itu.
***
Pagi ini masih sama seperti biasanya, Nia bangun pukul setengah enam pagi dan langsung menuju kamar mandi untuk bersiap-bersiap ke sekolah. hanya saja, wajahnya hari ini selalu saja manyum. Bahkan sampai dimeja makan pun, wajah Nia tak berubah rautnya, dia hanya memandangi makanan yang ada di depannya tanpa menyentuhnya sedikitpun.
“Gimana nih! Pasti bentar endy sama Luna nanyain tentang audisi kemarin. Aku kan malu kalau mereka tahu ternyata aku ngga ikut. Gara-gara sepeda onthel itu sih!” Nia terus saja mengumpat, dan tak bisa menghilangkan sisa-sisa kekesalannya kemarin. Dan benar saja, belum lagi Nia masuk ke gerbang sekolah, kedua teman barunya, Luna langsung menghampiri Nia dan menanyakan tentang audisinya.
“Gimana? Menang kan?” Tanya Luna dengan penuh antusias
“menang gimana! Ikut aja ngga” jawab Nia sambil terus menggerutu.
“ha!!!kamu ngga ikut? bukannya kemarin kamu bolos sekolah gara-gara audisi dance itu kan?” Endy pun ikut nimbrung dalam percakapan itu.
“iya! Tapi waktu perjalanan ke tempat audisi aku ditabrak sama UFO” terang Nia.
“Ah..yang benar kamu!masa ada UFO sih?” luna pun memperlihatkan sisi kebloonannya.
“aduh…UFO itu hanya perumpamaan, maksud aku kemarin yang nabrak tu Alien sama UFOnya alias sepeda onthelnya”Nia menjawab sambil memukulkan tangannya ke kepala, sementara Endy hanya bisa menahan tawa.
“pokoknya aku ngga akan maafin orang itu, audisi ini kan kesempatan langka”
Belum lagi mereka selesai bercakap-cakap, bel sekolah tanda pelajaran akan dimulai sudah berbunyi, mengisyaratkan agar semua anak-anak masuk ke kelasnya.
Oh my Good! Ini manusia apa Alien sih? Dandanan super kuno, kacamata pantat botol plus sepeda onthel lagi! Batinnya.
“eh punya mata ngga sih? Sekarang liat baju aku semuanya penuh Lumpur “
Bentak Nia dengan wajah yang memerah karena kesal. “maaf mba’ saya benar-benar ngga sengaja, saya buru-buru”jelas pemuda itu dengan terbata-bata.
“itu bukan urusan aku ya! Pokoknya gara-gara kamu sekarang aku ngga bisa ikut audisi”
“sekali lagi saya minta maaf mba”pemuda itu terus membungkuk, bak pelayan yang menjawab pertanyaan majikannya.
Dengan wajah yang masih kesal, Nia berlalu meninggalkan pemuda yang disebutnya sebagai alien itu.
***
Pagi ini masih sama seperti biasanya, Nia bangun pukul setengah enam pagi dan langsung menuju kamar mandi untuk bersiap-bersiap ke sekolah. hanya saja, wajahnya hari ini selalu saja manyum. Bahkan sampai dimeja makan pun, wajah Nia tak berubah rautnya, dia hanya memandangi makanan yang ada di depannya tanpa menyentuhnya sedikitpun.
“Gimana nih! Pasti bentar endy sama Luna nanyain tentang audisi kemarin. Aku kan malu kalau mereka tahu ternyata aku ngga ikut. Gara-gara sepeda onthel itu sih!” Nia terus saja mengumpat, dan tak bisa menghilangkan sisa-sisa kekesalannya kemarin. Dan benar saja, belum lagi Nia masuk ke gerbang sekolah, kedua teman barunya, Luna langsung menghampiri Nia dan menanyakan tentang audisinya.
“Gimana? Menang kan?” Tanya Luna dengan penuh antusias
“menang gimana! Ikut aja ngga” jawab Nia sambil terus menggerutu.
“ha!!!kamu ngga ikut? bukannya kemarin kamu bolos sekolah gara-gara audisi dance itu kan?” Endy pun ikut nimbrung dalam percakapan itu.
“iya! Tapi waktu perjalanan ke tempat audisi aku ditabrak sama UFO” terang Nia.
“Ah..yang benar kamu!masa ada UFO sih?” luna pun memperlihatkan sisi kebloonannya.
“aduh…UFO itu hanya perumpamaan, maksud aku kemarin yang nabrak tu Alien sama UFOnya alias sepeda onthelnya”Nia menjawab sambil memukulkan tangannya ke kepala, sementara Endy hanya bisa menahan tawa.
“pokoknya aku ngga akan maafin orang itu, audisi ini kan kesempatan langka”
Belum lagi mereka selesai bercakap-cakap, bel sekolah tanda pelajaran akan dimulai sudah berbunyi, mengisyaratkan agar semua anak-anak masuk ke kelasnya.
Raut wajah Nia yang kesal tetap tidak berubah walaupun sudah berada dalam kelas. Tak satupun pelajaran yang ditangkap otaknya hari ini, semua masuk tetlinga kanan dan keluar telinga kiri. Batinnya terus saja memaki pengemudi sepeda onthel kemarin.
Walaupun Nia baru satu minggu disekolah barunya itu, tapi dia tidak mengalami kesulitan untuk beradaptasi dengan teman-teman barunya. Maklum, Nia memang dikenal sebagai Mrs.gaul disekolahnya yang lama di Bogor. Tapi karena papanya dipindah tugaskan ke Makassar, mau tidak mau dia juga harus ikut pindah ke Makassar. Awalnya, Nia sama sekali tidak suka dengan sekolah barunya di SMAN 6 Makassar. Selain agak jauh dari pusat kota, untuk menjangkaunya pun harus menggunakan sarana transportasi yang agak ajaib, “oplet” ya, selain ojek, cuma opletlah yang mendapatkan hak istimewa untuk masuk ke area SMAN 6. Bayangin aja kalau Nia, si Mrs.Gaul, harus ke sekolah dengan oplet! Apa kata Dunia?. Tapi Nia tidak punya pilihan lain, hanya itulah satu-satunya sekolah Negeri yang mau menerimanya. Untung saja ada Mang Ujang yang setiap hari mengantar Nia kesekolah dengan mobil pribadi.
***
“Nia! Ke kantin yuk…” dengan gayanya yang super centil, Luna menghampiri Nia sambil terus memainkan rambutnya.
“malas Ah!”
“ayolah…masih mikirin masalah audisi kemarin ya! Kan masih ada kesempatan lain” Endy pun datang dan ikut memaksa Nia ke kantin.
“iya, tahun depan!”jawab Nia dengan ketus
“Ayo dong Ni…biarpun kamu duduk disini sampai kiamat, itu ngga akan merubah apa-apa”
Akhirnya Nia pun mengiyakan ajakan kedua temannya, dengan bibir yang masih maju lima centimeter, Nia mengikuti kedua temannya menuju ke kantin.
“Bu! Baksonya tiga ya!” teriak Nia pada ibu kantin sambil mengacungkan ke tiga jarinya. Mereka bertiga pun duduk dengan santainya sambil bercanda, bahkan, kali ini tak Nampak lagi bibir manyum Nia yang dari tadi dipamerkannya itu. Tapi ternyata kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Seorang cowok terjatuh pas disamping meja Nia, dan yang lebih sial lagi, minuman fanta yang dibawa oleh orang terisebut tumpah dan mengenai seragam Nia yang putih bersih. Wajah Nia kembali memerah.
Walaupun Nia baru satu minggu disekolah barunya itu, tapi dia tidak mengalami kesulitan untuk beradaptasi dengan teman-teman barunya. Maklum, Nia memang dikenal sebagai Mrs.gaul disekolahnya yang lama di Bogor. Tapi karena papanya dipindah tugaskan ke Makassar, mau tidak mau dia juga harus ikut pindah ke Makassar. Awalnya, Nia sama sekali tidak suka dengan sekolah barunya di SMAN 6 Makassar. Selain agak jauh dari pusat kota, untuk menjangkaunya pun harus menggunakan sarana transportasi yang agak ajaib, “oplet” ya, selain ojek, cuma opletlah yang mendapatkan hak istimewa untuk masuk ke area SMAN 6. Bayangin aja kalau Nia, si Mrs.Gaul, harus ke sekolah dengan oplet! Apa kata Dunia?. Tapi Nia tidak punya pilihan lain, hanya itulah satu-satunya sekolah Negeri yang mau menerimanya. Untung saja ada Mang Ujang yang setiap hari mengantar Nia kesekolah dengan mobil pribadi.
***
“Nia! Ke kantin yuk…” dengan gayanya yang super centil, Luna menghampiri Nia sambil terus memainkan rambutnya.
“malas Ah!”
“ayolah…masih mikirin masalah audisi kemarin ya! Kan masih ada kesempatan lain” Endy pun datang dan ikut memaksa Nia ke kantin.
“iya, tahun depan!”jawab Nia dengan ketus
“Ayo dong Ni…biarpun kamu duduk disini sampai kiamat, itu ngga akan merubah apa-apa”
Akhirnya Nia pun mengiyakan ajakan kedua temannya, dengan bibir yang masih maju lima centimeter, Nia mengikuti kedua temannya menuju ke kantin.
“Bu! Baksonya tiga ya!” teriak Nia pada ibu kantin sambil mengacungkan ke tiga jarinya. Mereka bertiga pun duduk dengan santainya sambil bercanda, bahkan, kali ini tak Nampak lagi bibir manyum Nia yang dari tadi dipamerkannya itu. Tapi ternyata kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Seorang cowok terjatuh pas disamping meja Nia, dan yang lebih sial lagi, minuman fanta yang dibawa oleh orang terisebut tumpah dan mengenai seragam Nia yang putih bersih. Wajah Nia kembali memerah.
Dengan kesal, Nia berdiri dari tempat duduknya dan siap melancarkan serangan.
“oh my God…...Alien!!!” teriak Nia dengan bola mata yang hampir keluar, dia sama sekali tak menyangka akan bertemu orang itu lagi. Ya, seseorang yang membuat impian Nia untuk menjadi seorang Dancer hancur berkeping-keping.
“kamu ngga bosan ya gangguin hidup Aku! ngga di luar, ngga disini, kamu tuh selalu ngacauin hidup aku” Sambil bertolak pinggang, Nia mengeluarkan suara macannya.
“maaf ya!saya sama sekali tidak sengaja” Fikri cepat-cepat berdiri dan membetulkan posisi kacamatanya.
“kamu cewe yang kemarin kan?” Fikri terlihat kaget dan terbata-bata.
“iya!kanapa? akhirnya kamu sadar kan kalau kamu memang pembawa sial buat aku” kemarahan Nia semakin menjadi-jadi, sekarang Nia persis seperti harimau yang siap menerkam sang musang.
“maaf ya!Saya memang ceroboh, tapi Saya sama sekali ngga bermaksud buat kamu sial terus” Fikri memelas dan terus memegangi lututnya yang sakit.
“udah deh…mending sekarang kamu nyingkir dari hadapan aku, sebelum kesialan lain menimpaku lagi” siswa-siswi lain yang mendengar pertengkaran itu pun terus berkerumun. Bagaimana tidak! Volume sound system Nia sekarang lagi oke-okenya.
“sekali lagi maaf ya! Saya benar-benar tidak sengaja” Fikri kemudian berlalu dengan wajah yang masih meringis kesakitan, sepertinya tangannya terluka akibat jatuh tadi.
“jadi yang kamu maksud sebagai Alien itu Fikri!” Tanya luna yang dari tadi hanya bisa bengong menyaksikan keganasan Nia.
“iya! Si Alien pembawa sial”jawab Nia diiringi dengan wajah ketusnya.
“dia itu bukan pembawa sial kali, asal kamu tahu Ni, Fikri itu sisiwa teladan disini, dia itu ketua Rohis lho!”Endy menimpali.
“Mau ketua Rohis kek, ketua geng kek, Aku ngga perduli, pokoknya Aku ngga bakalan tinggal diam dengan semua ini”
“maksudnya kamu pengen balas dendam?”
Nia sama sekali tak menjawab pertanyaan Luna, dia hanya tersenyum sinis dan kembali kekelas. Akhirnya tak ada lagi acara makan bakso bersama siang itu. Semua hancur berantakan gara-gara kemunculan si Alien, ups...maksudnya Fikri!
***
Siang ini, matahari sungguh tak bersahabat, radiasi panas yang dipancarkannya serasa memanggang mahkluk bumi hidup-hidup. Sepertinya lapisan Ozon diatas sana semakin tipis saja. Dengan malas Nia melangkahkan kakinya ke gerbang sekolah untuk menunggu mang Ujang, sopir yang selama ini setia mengantar dan menjemput Nia di sekolah. Belum lagi sampai di gerbang, mata Nia tertuju pada sebuah sepeda onthel yang terparkir di bawah pohon. Tanpa butuh peralatan detektif, Nia langsung tahu bahwa sepeda itu adalah milik Fikri. Sepertinya Bisikan setan mulai menyeruak di telinganya. Sekarang sama sekali tak terdengar suara peri yang membisikkan kebaikan. Bak maling yang mengendap-ngendap, Nia mendekati sepeda onthel itu dan Puss….satu sentuhan saja, ban sepeda itu mulai mengeluarkan Angin dan kempes.
Tanpa rasa bersalah, senyum Nia mengembang memperlihatkan kepuasan. Nia pun cepat-cepat menuju mobil jemputannya sebelum orang lain melihat perbuatan terkutuknya.
Sementara itu, Fikri yang biasanya pulang dengan menunggangi sepeda onthel perkasa kesayangannya, sekarang harus jalan kaki sambil membawa sepedanya. Belum lagi matahari yang sangat terik, hampir membuat Fikri pingsan kehausan.
“Akh, sepertiya sepeda ini sudah tua dan butuh pensiun” Gumam Fikri dalam hati sambil terus menyeka peluh yang dari tadi bercucuran diwajahnya. Agaknya Fikri sama sekali tak tahu kalau yang mengempeskan ban sepedanya adalah Nia, sang Harimau dari kota hujan!
***
Akhirnya malam minggu pun tiba, Its time to party!!!
“oh my God…...Alien!!!” teriak Nia dengan bola mata yang hampir keluar, dia sama sekali tak menyangka akan bertemu orang itu lagi. Ya, seseorang yang membuat impian Nia untuk menjadi seorang Dancer hancur berkeping-keping.
“kamu ngga bosan ya gangguin hidup Aku! ngga di luar, ngga disini, kamu tuh selalu ngacauin hidup aku” Sambil bertolak pinggang, Nia mengeluarkan suara macannya.
“maaf ya!saya sama sekali tidak sengaja” Fikri cepat-cepat berdiri dan membetulkan posisi kacamatanya.
“kamu cewe yang kemarin kan?” Fikri terlihat kaget dan terbata-bata.
“iya!kanapa? akhirnya kamu sadar kan kalau kamu memang pembawa sial buat aku” kemarahan Nia semakin menjadi-jadi, sekarang Nia persis seperti harimau yang siap menerkam sang musang.
“maaf ya!Saya memang ceroboh, tapi Saya sama sekali ngga bermaksud buat kamu sial terus” Fikri memelas dan terus memegangi lututnya yang sakit.
“udah deh…mending sekarang kamu nyingkir dari hadapan aku, sebelum kesialan lain menimpaku lagi” siswa-siswi lain yang mendengar pertengkaran itu pun terus berkerumun. Bagaimana tidak! Volume sound system Nia sekarang lagi oke-okenya.
“sekali lagi maaf ya! Saya benar-benar tidak sengaja” Fikri kemudian berlalu dengan wajah yang masih meringis kesakitan, sepertinya tangannya terluka akibat jatuh tadi.
“jadi yang kamu maksud sebagai Alien itu Fikri!” Tanya luna yang dari tadi hanya bisa bengong menyaksikan keganasan Nia.
“iya! Si Alien pembawa sial”jawab Nia diiringi dengan wajah ketusnya.
“dia itu bukan pembawa sial kali, asal kamu tahu Ni, Fikri itu sisiwa teladan disini, dia itu ketua Rohis lho!”Endy menimpali.
“Mau ketua Rohis kek, ketua geng kek, Aku ngga perduli, pokoknya Aku ngga bakalan tinggal diam dengan semua ini”
“maksudnya kamu pengen balas dendam?”
Nia sama sekali tak menjawab pertanyaan Luna, dia hanya tersenyum sinis dan kembali kekelas. Akhirnya tak ada lagi acara makan bakso bersama siang itu. Semua hancur berantakan gara-gara kemunculan si Alien, ups...maksudnya Fikri!
***
Siang ini, matahari sungguh tak bersahabat, radiasi panas yang dipancarkannya serasa memanggang mahkluk bumi hidup-hidup. Sepertinya lapisan Ozon diatas sana semakin tipis saja. Dengan malas Nia melangkahkan kakinya ke gerbang sekolah untuk menunggu mang Ujang, sopir yang selama ini setia mengantar dan menjemput Nia di sekolah. Belum lagi sampai di gerbang, mata Nia tertuju pada sebuah sepeda onthel yang terparkir di bawah pohon. Tanpa butuh peralatan detektif, Nia langsung tahu bahwa sepeda itu adalah milik Fikri. Sepertinya Bisikan setan mulai menyeruak di telinganya. Sekarang sama sekali tak terdengar suara peri yang membisikkan kebaikan. Bak maling yang mengendap-ngendap, Nia mendekati sepeda onthel itu dan Puss….satu sentuhan saja, ban sepeda itu mulai mengeluarkan Angin dan kempes.
Tanpa rasa bersalah, senyum Nia mengembang memperlihatkan kepuasan. Nia pun cepat-cepat menuju mobil jemputannya sebelum orang lain melihat perbuatan terkutuknya.
Sementara itu, Fikri yang biasanya pulang dengan menunggangi sepeda onthel perkasa kesayangannya, sekarang harus jalan kaki sambil membawa sepedanya. Belum lagi matahari yang sangat terik, hampir membuat Fikri pingsan kehausan.
“Akh, sepertiya sepeda ini sudah tua dan butuh pensiun” Gumam Fikri dalam hati sambil terus menyeka peluh yang dari tadi bercucuran diwajahnya. Agaknya Fikri sama sekali tak tahu kalau yang mengempeskan ban sepedanya adalah Nia, sang Harimau dari kota hujan!
***
Akhirnya malam minggu pun tiba, Its time to party!!!
Nia pun sibuk memilah-milah pakaian yang hendak dikenakannya malam ini.
Biasanya Luna dan Endy selalu menjadi bagian dari pesta itu, tapi malam ini, sepertinya Nia harus berangkat sendiri. Kedua sahabatnya itu ternyata punya agenda keluarga yang tak bisa ditinggalkan. Walaupun tanpa Luna dan endy, Nia tetap bersemangat menyambut week end ini. Dengan stelan gaun merah yang super mini, Nia menstater mobilnya dan siap untuk berpesta.
Lagi-lagi nasib baik ternyata tak berpihak pada Nia, padahal saat itu, fikri sama sekali tidak berada di dekat Nia kok! belum sampai di tujuan, mobilnya mendadak cengeng dan akhirnya mogok di tengah jalan. Keganasan dan keberanian Nia yang selalu diperihatkannya saat sedang menghadapai Fikri, sekarang minggat tak berjejak. Bagaimana tidak, sekarang mobilnya mogok di daerah yang sama sekali tak berpenghuni. Belum lagi daerah itu terkenal sebagai daerah yang rawan kejahatan. Nia melihat ke kaca spion dan alangkah kegetnya dia ketika melihat denga samar-samar, seorang laki-laki sedang memperhatikan mobilnya dari belakang. Nia tak berani lagi untuk melihat lebih jelas, dia hanya duduk diam di mobilnya dengan menutup mata sambil mulutnya terus komat-kamit membaca Al-Fatihah, satu-satunya surat yang dihapalnya, itu pun karena waktu liburan dikampung dia dipaksa oleh nenekna untuk menghapal Al-Fatihah.
Kini jantung Nia hampir rontok karena takut. Langkah kaki orang itu semakin jelas mendekati mobil Nia, nia terus mengulangi bacaan fatihahnya sambil terus menutup mata.
Lagi-lagi nasib baik ternyata tak berpihak pada Nia, padahal saat itu, fikri sama sekali tidak berada di dekat Nia kok! belum sampai di tujuan, mobilnya mendadak cengeng dan akhirnya mogok di tengah jalan. Keganasan dan keberanian Nia yang selalu diperihatkannya saat sedang menghadapai Fikri, sekarang minggat tak berjejak. Bagaimana tidak, sekarang mobilnya mogok di daerah yang sama sekali tak berpenghuni. Belum lagi daerah itu terkenal sebagai daerah yang rawan kejahatan. Nia melihat ke kaca spion dan alangkah kegetnya dia ketika melihat denga samar-samar, seorang laki-laki sedang memperhatikan mobilnya dari belakang. Nia tak berani lagi untuk melihat lebih jelas, dia hanya duduk diam di mobilnya dengan menutup mata sambil mulutnya terus komat-kamit membaca Al-Fatihah, satu-satunya surat yang dihapalnya, itu pun karena waktu liburan dikampung dia dipaksa oleh nenekna untuk menghapal Al-Fatihah.
Kini jantung Nia hampir rontok karena takut. Langkah kaki orang itu semakin jelas mendekati mobil Nia, nia terus mengulangi bacaan fatihahnya sambil terus menutup mata.
Tok..tok…!si lelaki misterius kemudian mengetuk kaca mobil Nia. Sekarang, Nia benar-benar ketakutan, Nia menahan nafasnya sejenak sebelum memberanikan diri untuk membuka mata.
“Nia kan?” Nia terperanjat melihat sosok yang berdiri di hadapannya sekarang.
“Fikri!!! Kamu emang seneng ya bikin Aku takut” teriak Nia dengan wajah yang masih diliputi rasa takut, dan tentu saja masih dengan topeng keganasan yang selalu dikenakannya saat menghadapi Fikri.
“Nia kan?” Nia terperanjat melihat sosok yang berdiri di hadapannya sekarang.
“Fikri!!! Kamu emang seneng ya bikin Aku takut” teriak Nia dengan wajah yang masih diliputi rasa takut, dan tentu saja masih dengan topeng keganasan yang selalu dikenakannya saat menghadapi Fikri.
Tapi sekarang, Nia agak lega dengan kedatangan Fikri. Ya, walaupun kedatangan Fikri saat itu tidak diundang dan tak diharapkan, tapi paling tidak yang menemukannya terlantar dipinggir jalan adalah orang yang dikenalnya. Coba yang tadi orang lain, mungkin Nia udah pipis di celana karena tak sanggup menahan rasa takut.
“mobilnya mogok ya?, kalau kamu ngga keberatan Saya bisa nganterin kamu pulang!” Fikri mencoba menawarkan bantuan.
“ngga usah! Aku sama sekali ngga sudi pulang sama kamu, apa lagi harus numpang di sepeda onthel kamu!” tolak Nia dengan ketus.
“Tapi kamu kan cewe’!ngga baik cewe di tengah jalan sendirian di malam hari kayak gini. Apa lagi disini kan daerah rawan kejahatan Ni!” Fikri mencoba membujuk.
“Ah...bilang aja kamu mau cari kesempatan dalam kesempitan kan?” Nia memasang wajah curiganya. Sebenarnya Fikri sama sekali tak punya niat apa-apa terhadp Nia, coba saja Fikri dari kecil tidak diajari tentang tolong menolong, Dia juga ogah buat nolongin si harimau betina. Apa lagi Fikri paling anti sama yang namanya berdua-duaan (Anti kuman... kali).
Tapi akhirnya Nia nyerah juga! Walau bagaimanapun ganasnya seorang Nia, tetap saja dia ketakutan kalau harus sendirian di tengah jalan yang sepi kayak gini. Dengan berat hati Nia pun ikut pulang dengan Fikri, dan tentu saja dibonceng dengan sepeda onthelnya. “Ya tuhan…ternyata sepeda onthel inilah yang menolongku disaat mobil canggihku tak bisa berbuat apa-apa, padahal kemarin Aku udah jahat banget sama ni sepeda” Gumam Nia dalam Hati sambil mangusap sadel sepeda onthel milik Fikri. Tapi ada satu hal yang membuat Nia merasa heran, Dia tak pernah menyangka akan merasa nyaman duduk di sepeda onthel yang dibawa Fikri. Ada perasaan Aneh yang menyergapnya. ya, perasaan yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. “oh Tuhan…perasaan Apa ini? Apa mungkin ini yang dinamakan cinta?” Nia tak sanggup menyembunyikan perasaannya, sampai-sampai, sekarang dia nyengar-nyengir sendiri kayak orang gila. “Akh, tapi tidak! Masa sih Aku jatuh Cinta sama orang kayak gini, kayak ngga ada cowok lain aja!” Nia mencoba mencoba meyakinkan perasaannya.
***
Dering weker membangunkan Nia dari tidurnya. Dia pun melakukan aktivitas rutinnya sebelum beranjak dari tempat tidur. Menggeliat-geliat beberapa menit, lalu melakukan sit-up sebentar. Suara petir diluar sana menyambar-nyambar, langit pun tak kuasa menahan beratnya Awan hitam, hingga Akhirnya berjatuhanlah tetesan-tetesan air dari atas sana. Hujan-hujan kayak gini, emang yang paling enak dilakukan adalah tidur. Tapi tidak bagi Nia, hari ini dia sangat bersemangat untuk kesekolah. Dari semalam dia sama sekali tak bisa tidur dengan tenang untuk menuggu hari ini tiba. Memang benar kata pepatah, kalau jarak benci dan Cinta itu hanya setipis kulit bawang. Buktinya, Rasa benci Nia pada Fikri mendadak berubah menjadi rasa Cinta dan sayang.
Sejak kejadian malam itu, sikap Nia ke Fikri memang berubah 180 derajat. Walaupun malam itu, yang datang untuk menolong Nia bukanlah seorang pangeran berkuda putih, tapi setidaknya, kedatangan Fikri dan si sepeda onthel sudah cukup mewakili semuanya. Tapi Nia bingung bagaimana caranya menaklukkan hati Fikri. Masalahnya Fikri tak pernah memberikan sinyal lampu hijau pada Nia. Setiap Nia mengajaknya untuk jalan bareng, Fikri selalu menolak dengan alasan yang tidak jelas, dia hanya bilang “Tidak baik perempuan dan laki-laki yang bukan muhrim berduaan!” Nia semakin tidak mengerti, dia tidak mengerti apa itu muhrim, dan bagaimana hukumnya dalam islam.
Nia terus melangkahkan kaki menuju ke gerbangng sekolah, dengan wajah yang berseri-seri dan bibir yang terus menebar senyum, sangat jelas hari ini adalah hari yang istimewa bagi Nia. Hari ini dia memang berencana untuk menyatakan semua isi hatinya pada Fikri.
“Fikri!! Tunggu” teriak Nia. Fikri yang tadi hendak memarkir sepedanya menghentikan langkahnya mendengar teriakan Nia.
“Ada apa Ni?” sambil terus menunduk, Fikri menjawab sapaan Nia
“Aku mau ngomong sesuatu! Sebelumnya, Aku minta maaf ya! selama ini Aku udah jahat dan galak sama kamu. Tapi sekarang Aku sadar itu salah. Dan asal kamu tahu, sejak kamu nolong Aku malam itu, Aku merasakan perasaan Aneh yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Dan Aku yakin kalau itu Cinta. Dan Aku harap kamu juga merasakan hal yang sama sepertiku” jelas Nia dengan sangat Antusias.
“Jangan terlalu yakin dengan perasaan kamu, karena sangat sulit membedakan antara suara hati dan nafsu” jawab Fikri sambil terus mengulum senyum. Tanpa berkata apa-apa lagi fikri mengambil sebuah bingkisan kecil dari dalam tasnya dan menyerahkan bungkusan itu pada Nia. Nia hanya bisa terdiam dan berdiri kayak patung. Lidahnya kelu dan tak bisa berkata apapun. Fikri pun meninggalkan Nia tanpa memberi jawaban pasti.
Sampai di kelas, Nia membuka bingkisan kecil yang di berikan Fikri, walaupun dia masih bingung dengan sikap Fikri tadi, tapi Nia mencoba untuk berpositive Thinking. Kebingungan Nia semakin bertambah ketika melihat isi bingkisan itu. Jilbab dan sebuah buku kecil “Muslimah, dimana Identitasmu?” ya, seperti itulah judul bukunya. Nia mencoba membuka buku itu lembar demi lembar, dan akhirnya Nia mengerti kenapa Fikri bersikap seperti itu, dan kenapa Fikri tak mau pacaran. Tak sadar Air mata Nia mulai menetes dan semakin lama semakin deras. Tapi air matanya itu cukup untuk membasahi hatinya yang telah kering selama ini. Sekarang perasaan aneh itu muncul lagi! Tapi sekarang perasaan Aneh itu bukan untuk seorang Fikri. Tapi untuk suatu dzat yang belum bisa Nia pahami.
“mobilnya mogok ya?, kalau kamu ngga keberatan Saya bisa nganterin kamu pulang!” Fikri mencoba menawarkan bantuan.
“ngga usah! Aku sama sekali ngga sudi pulang sama kamu, apa lagi harus numpang di sepeda onthel kamu!” tolak Nia dengan ketus.
“Tapi kamu kan cewe’!ngga baik cewe di tengah jalan sendirian di malam hari kayak gini. Apa lagi disini kan daerah rawan kejahatan Ni!” Fikri mencoba membujuk.
“Ah...bilang aja kamu mau cari kesempatan dalam kesempitan kan?” Nia memasang wajah curiganya. Sebenarnya Fikri sama sekali tak punya niat apa-apa terhadp Nia, coba saja Fikri dari kecil tidak diajari tentang tolong menolong, Dia juga ogah buat nolongin si harimau betina. Apa lagi Fikri paling anti sama yang namanya berdua-duaan (Anti kuman... kali).
Tapi akhirnya Nia nyerah juga! Walau bagaimanapun ganasnya seorang Nia, tetap saja dia ketakutan kalau harus sendirian di tengah jalan yang sepi kayak gini. Dengan berat hati Nia pun ikut pulang dengan Fikri, dan tentu saja dibonceng dengan sepeda onthelnya. “Ya tuhan…ternyata sepeda onthel inilah yang menolongku disaat mobil canggihku tak bisa berbuat apa-apa, padahal kemarin Aku udah jahat banget sama ni sepeda” Gumam Nia dalam Hati sambil mangusap sadel sepeda onthel milik Fikri. Tapi ada satu hal yang membuat Nia merasa heran, Dia tak pernah menyangka akan merasa nyaman duduk di sepeda onthel yang dibawa Fikri. Ada perasaan Aneh yang menyergapnya. ya, perasaan yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. “oh Tuhan…perasaan Apa ini? Apa mungkin ini yang dinamakan cinta?” Nia tak sanggup menyembunyikan perasaannya, sampai-sampai, sekarang dia nyengar-nyengir sendiri kayak orang gila. “Akh, tapi tidak! Masa sih Aku jatuh Cinta sama orang kayak gini, kayak ngga ada cowok lain aja!” Nia mencoba mencoba meyakinkan perasaannya.
***
Dering weker membangunkan Nia dari tidurnya. Dia pun melakukan aktivitas rutinnya sebelum beranjak dari tempat tidur. Menggeliat-geliat beberapa menit, lalu melakukan sit-up sebentar. Suara petir diluar sana menyambar-nyambar, langit pun tak kuasa menahan beratnya Awan hitam, hingga Akhirnya berjatuhanlah tetesan-tetesan air dari atas sana. Hujan-hujan kayak gini, emang yang paling enak dilakukan adalah tidur. Tapi tidak bagi Nia, hari ini dia sangat bersemangat untuk kesekolah. Dari semalam dia sama sekali tak bisa tidur dengan tenang untuk menuggu hari ini tiba. Memang benar kata pepatah, kalau jarak benci dan Cinta itu hanya setipis kulit bawang. Buktinya, Rasa benci Nia pada Fikri mendadak berubah menjadi rasa Cinta dan sayang.
Sejak kejadian malam itu, sikap Nia ke Fikri memang berubah 180 derajat. Walaupun malam itu, yang datang untuk menolong Nia bukanlah seorang pangeran berkuda putih, tapi setidaknya, kedatangan Fikri dan si sepeda onthel sudah cukup mewakili semuanya. Tapi Nia bingung bagaimana caranya menaklukkan hati Fikri. Masalahnya Fikri tak pernah memberikan sinyal lampu hijau pada Nia. Setiap Nia mengajaknya untuk jalan bareng, Fikri selalu menolak dengan alasan yang tidak jelas, dia hanya bilang “Tidak baik perempuan dan laki-laki yang bukan muhrim berduaan!” Nia semakin tidak mengerti, dia tidak mengerti apa itu muhrim, dan bagaimana hukumnya dalam islam.
Nia terus melangkahkan kaki menuju ke gerbangng sekolah, dengan wajah yang berseri-seri dan bibir yang terus menebar senyum, sangat jelas hari ini adalah hari yang istimewa bagi Nia. Hari ini dia memang berencana untuk menyatakan semua isi hatinya pada Fikri.
“Fikri!! Tunggu” teriak Nia. Fikri yang tadi hendak memarkir sepedanya menghentikan langkahnya mendengar teriakan Nia.
“Ada apa Ni?” sambil terus menunduk, Fikri menjawab sapaan Nia
“Aku mau ngomong sesuatu! Sebelumnya, Aku minta maaf ya! selama ini Aku udah jahat dan galak sama kamu. Tapi sekarang Aku sadar itu salah. Dan asal kamu tahu, sejak kamu nolong Aku malam itu, Aku merasakan perasaan Aneh yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Dan Aku yakin kalau itu Cinta. Dan Aku harap kamu juga merasakan hal yang sama sepertiku” jelas Nia dengan sangat Antusias.
“Jangan terlalu yakin dengan perasaan kamu, karena sangat sulit membedakan antara suara hati dan nafsu” jawab Fikri sambil terus mengulum senyum. Tanpa berkata apa-apa lagi fikri mengambil sebuah bingkisan kecil dari dalam tasnya dan menyerahkan bungkusan itu pada Nia. Nia hanya bisa terdiam dan berdiri kayak patung. Lidahnya kelu dan tak bisa berkata apapun. Fikri pun meninggalkan Nia tanpa memberi jawaban pasti.
Sampai di kelas, Nia membuka bingkisan kecil yang di berikan Fikri, walaupun dia masih bingung dengan sikap Fikri tadi, tapi Nia mencoba untuk berpositive Thinking. Kebingungan Nia semakin bertambah ketika melihat isi bingkisan itu. Jilbab dan sebuah buku kecil “Muslimah, dimana Identitasmu?” ya, seperti itulah judul bukunya. Nia mencoba membuka buku itu lembar demi lembar, dan akhirnya Nia mengerti kenapa Fikri bersikap seperti itu, dan kenapa Fikri tak mau pacaran. Tak sadar Air mata Nia mulai menetes dan semakin lama semakin deras. Tapi air matanya itu cukup untuk membasahi hatinya yang telah kering selama ini. Sekarang perasaan aneh itu muncul lagi! Tapi sekarang perasaan Aneh itu bukan untuk seorang Fikri. Tapi untuk suatu dzat yang belum bisa Nia pahami.
From :
Intimidate the Alien!!!....
Ya seperti yang kita ketahui bersama alien adalah sebutan untuk mahluk asing, mahluk yang tentunya berbeda dengan kita penghuni bumi ini. Dengar-dengar alien itu memiliki pisik yang lebih kecil dibandingkan dengan manusia tapi mereka dipercaya memiliki tingkat intelejensi yang tinggi. Hal ini tentunya dapat dilihat lewat pesawat canggih yang mereka buat seperti yang biasa digambarkan dalam beberapa film. mereka juga terkenal sadis. so hati-hati dengan alien… nah Alien yang saya maksud disini bukan lah mahluk luar angkasa, tapi Alien yang saya maksud adalah sebutan bagi warga negara illegal (illegal immigrant) yang menetap di amerika yang diberikan oleh rakyat amerika.
Tentunya sudah jelas bukan kenapa seseorang bisa disebut sebagai alien. Yah. Mereka disebut demiakian akibat kelegalitasan mereka untuk memasuki sebuah Negara dalam hal ini amerika dan menetap disana tidak ada dan tidak diakuai.
Sebenarnya apa yang membuat orang berani melakukan demikian? Padalah konsekuensi yang harus diterima apabila ketahuan sangatlah berat.
Sebenarnya ada dua factor mengapa banyak orang menjadi alien di amerika,
Pertama adalah perang saudara. Disebut perang saudara karena pada dasarnya perang dilakukan oleh dua kelompok yang berbeda tapi tetap berada dibawah naungan pemerintahan atau wilayah yang sama. Bila terjadi perang saudara, bukan tidak dipungkiri lagi bahwa masyarakatlah yang menjadi korbanya. Sebagai manusia kita juga punya instinct, kita tentunya tidak mau menjadi korban. Sebagai akibatnya kita harus pindah, keluar dari Negara,wilayah tersebut dan masuk ke sebuah Negara, wilayah illegally.
Yang kedua adalah kemiskinan. Meski uang buakan segala galanya, tapi pada kenyataanya tanpa uang kita tidak dapat bertahan hidup. Cara satu-satunya mendapatkan duit adalah dengan bekerja tentunya. Tapi mencari pekerjaan tentunya bukan hal yang gampang ditambah lagi kosongnya lowongan pekerjaan. Ujung-ujungnya minggat dan jadi alien.
Menyandang kapasitas sebagai Alien tentunya sangat berbahaya dan dilematis. Bagi sebagian penduduk asli/native hal ini tentunya membawa keberuntungan bagi mereka yang mau mengambil keuntungan dari status mereka. Mereka pada awalnya akan senang dengan kehadiran para alien ini, mereka tampil sebagai hero dengan sejumlah tawaran pekerjaaan ditangan. Tapi apa yang terjadi?…Muka dua..Pada hari pembayaran gaji jatuh tempo mereka/native akan datang bersamaan dengan petugas sipil. Ujung-ujungnya para alien bukan mendapat gaji malah ditangkap petugas dan dideportasi.
Intimidasi juga adalah menjadi sebuah penomena yang biasa dan bukan menjadi hal yang baru dirasakan oleh para alien. Mereka diperlakukan seenaknya saja oleh para native tentunya. Mereka rela disiksa tanpa perlawanan. Bukan tidak bermaksud untuk tidak melawan tapi dengan melawan itu hanyalah memperburuk suasana.
Rasa ketakutan yang mendalam juga tentunya menjadi salah satu bumbu penderitaan dari seorang alien. Rasa takut yang berlebihan tentunya membawanya ke rasa curiga yang tinggi. Hingga tidak dapat membedakan mana yang berniat baik dan berniat jahat.
Sakit memang menjadi alien, tapi apa daya semua ini dilakukan untuk menjaga agar jantung tidak berhenti memompa darah keseluruh bagian tubuh dan paru paru tidak berhenti berdetak. Dibutukan memang tingkat kecakapan yang tinggi agar terbebas dari hukuman dan deportasi. Ilustrasi ini adalah sebuah plot dari novel yang berjudul Journey of the Sparrow karangan Fran Leeper Buss. Novel ini memang menceritakan sebagian pengalaman warga El Salvador manakala perang saudara terjadi di Negara mereka pada tahun 1980-1992. perang inilah salah satu yang memaksa sebagian penduduknya masuk ke amerika dan menetap disana sebagai alien…
Salam,
Source: Journey of the Sparrow By Fran Leeper Buss
from :
Langganan:
Postingan (Atom)